Senin, 12 Maret 2012

Ayo Bangunlah Penuntut Ilmu (Bagian 4)

Bangunlah Engkau Wahai Orang Yang Lemah dalam menuntut Ilmu! (Bagian 4)

3. Dan adapun sebab yang ketiga : APA-APA YANG DIRASAKAN PENUNTUT ILMU DARI MASYAQQOH BADANIYYAH ATAU MASYAQQOH DZAHNIYYAH (KESULITAN BADAN, DAN KESULITAN PIKIRAN).

Kesulitan badan adalah seperti tempat pembelajaran yang jauh sekali, maka dia menjadi berat untuk pergi kesana, seolah-olah tempatnya tidak cocok untuknya, maka dia menjadi orang yang misalnya suka terlambat, dan meski dia datang di pelajaran akan tetapi dia tidak mendapatkan transportasi untuk pulang lagi ke rumahnya, atau dia akan datang ke rumah terlambat.... dan hal-hal lain yang semisal.




Adapaun kesulitan pikiran maka seperti seorang penuntut ilmu yang kesulitan memahami materi-materi syari'ah tertentu, dan itu seperti ilmu nahwu yang mana membantu banyak penuntut ilmu ketika mengalami kesulitan.

Dan saya katakan untuk menjawab hal tersebut :
Pertama : agar engkau mengetahui -Saudaraku penuntut ilmu- bahwa kesulitan dalam meraih ilmu adalah perkara kauniyyah, dan sunnah kauniyyah pastilah terjadi, dan pastilah menuntut ilmu berbarengan dengan kesulitan, dan sebaliknya kesulitan untuk berbarengan dengan menuntut ilmu, dan keduanya tidak akan terpisah selamanya. Maka kaidah yang digunakan untuk mengecualikannya adalah : BAHWA ILMU TIDAK BISA DIRAIH DENGAN JASAD YANG SANTAI, dan bahwa barang siapa yang menuntut ilmu pasti akan begadang malam, dan bahwa sebagian ilmu tidak akan memberikan dirinya padamu sampai engkau memberikan seluruh dirimu padanya, dan bahwa barang siapa menginginkan peristirahatan di akhirat maka dia akan maka dia akan meninggalkan peristirahatan badannya, dan lihatlah atsar berikut ini :

Berkata Al Ashmu'iy : Barang siapa yang tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu sesaat, maka dia akan merasakan rendahnya kebodohan selamanya.

Dan dari sebagian salaf : Barang siapa yang TIDAK SABAR (PENGEN CEPAT BISA TAPI TIDAK MAU SUSAH, PENGEN BISA HURA-HURA DAN SENANG TERUS, NYANTAI -PENT) UNTUK BELAJAR, MAKA SISA UMURNYA BERADA DALAM KEBODOHANNYA, dan barang siapa yang bersabar atas menuntut ilmu maka urusannya akan menjadi kemuliaan di dunia dan di akhirat.

Berkata Abul Faraj ibnul Jauziy  -rahimahullah- : Aku memperhatikan dengan heran, bahwa segala sesuatu mempunyai jalan yang berbahaya yang panjang untuk dilewati, dan akan banyak rasa lelah untuk meraihnya, karena sesungguhnya ilmu yang mana dia merupakan semulia-mulianya perkara, maka tidak mungkin diraih tanpa rasa letih, dan tanpa begadang, tanpa mengulang-ulang, dan harus mengharamkan kelezatan dan rasa nyaman, sampai sebagian ahli fiqh mengatakan : Aku telah menetap selama bertahun-tahun ingin menikmati bubur daging yang aku tidak pernah bisa membelinya, karena waktu dijualnya adalah waktu mendengarkan pelajaran.

Dan sungguh indah orang yang mengatakan :
فَقُلْ لِمُرَجِّي مَعَالِي الأُمُورِ
بِغَيْرِ اجْتِهَادٍ رَجَوْتَ المُحَالاَ

Katakanlah kepada orang yang berharap kemuliaan urusan-urusan
Yang mana mereka tidak mau bersungguh-sungguh, Engkau telah berharap hal yang mustahil

Berkata Muslim dalam Shahihnya : Berkata Yahyaa ibn Abi Katsiir : Ilmu tidak akan di raih dengan jasad yang santai/nyaman.

Dan dikatakan : Barang siapa yang menginginkan kenyamanan di akhirat maka dia akan meninggalkan kenyaman di negeri dunia.

Berkata seorang penyair :
فَيَا وَصْلَ الحَبِيبِ أَمَا إِلَيْهِ
بِغَيْرِ مَشَقَّةٍ أَبَدًا طَرِيقُ

لاَ تَحْسَبِ المَجْدَ تَمْرًا أَنْتَ آكِلُهُ
لَنْ تَبْلُغَ المَجْدَ حَتَّى تَلْعَقَ الصَّبْرَا

Wahai penyambung cinta kepadanya
Yang engkau tidak mau kesusahan dalam menggapai jalannya
Jangan pernah engkau sangka bahwa kemuliaan itu adalah kurma yang engkau makan (yakni mudah dan enak -pent) 
Karna kau tak akan bisa mencapai kemuliaan tersebut tanpa menjilat kesabaran

Dan para ahli ilmu -rahimahullah- senantiasa melalui kesukaran yang berat untuk meraih ilmu, Imam Ibn Hisyaam seorang ahli nahwu -rahimahullah- pemilik kitab Qothrun Nadaa dan Al Mughniy dan selainnya menasehati para penuntut ilmu untuk bersabar dari kesulitan dalam meraihnya, karena itu adalah SYARAT UNTUK MENDAPATKAN YANG DIINGINKAN (YAITU ILMU YANG MULIA DAN BERHARGA), maka beliau mengatakan :


وَمَنْ يَصْطَبِرْ لِلْعِلْمِ يَظْفَرْ بِنَيْلِهِ
وَمَنْ يَخْطُبِ الحَسْنَاءَ يَصْبِرْ عَلَى الْبَذْلِ

وَمَنْ لَمْ يُذِلَّ النَّفْسَ فِي طَلَبِ العُلَى
يَسِيرًا يَعِشْ دَهْرًا طَوِيلاً أَخَا ذُلِّ

وَمَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً
تَجَرَّعَ ذُلَّ الجَهْلِ طُولَ حَيَاتِهِ

Barang siapa bersabar terhadap ilmu maka dia akan memperolehnya
Dan barang siapa yang melamar wanita cantik lagi baik, maka dia akan bersabar untuk mengorbankan yang dia miliki
Dan barang siapa yang tidak merasakan pahitnya diri ketika menuntut sesuatu yang tinggi
Maka dia akan menjalani kehidupannya sepanjang waktu bersama kerendahan.
Dan barang siapa yang tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu sesaat saja
Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.

Dan aku mengingatkan pada diriku sendiri - yaitu : Abu Anas- Sesungguhnya aku ini masih dalam permulaan menuntut ilmu, dan aku menetapi waktu sekitar satu tahun yang mana aku kesulitan yang amat sangat dalam memahami nahwu, dan bersama dengan itu aku sangat bersemangat untuk menghadiri pelajaran, sampai Allah anugerahkan padaku pemahaman, falhamdulillah atas segala nikmat-nikmatnya.

Maka wajib bagimu wahai penuntut ilmu untuk berusaha keras untuk meraihnya, karena perkara ini sebagaimana yang dikatan ibnul Junaid : Tidaklah seseorang mempelajari sesuatu dengan kerja keras, dan kejujuran melainkan dia akan memperolehnya, maka jika dia tidak memperoleh seluruhnya dia akan mendapatakan sebagiannya.

Berkata murid-murid Al Allaamah Bahjah Al Atsary tentangnya : aku mengingat bahwa aku tidak dapat hadir mengikuti pelajaran pada suatu hari yang mengkhawatirkan, angin yang sangat kencang, hujan yang deras, banyak lumpur, dan aku mengira bahwa Syaikh tidak akan datang ke tempat belajar, maka ketika aku berangkat di hari yang kedua untuk belajar, maka Syaikh menghardik dengan nada marah :

Tidak ada kebaikan bagi orang yang terhalang belajar karena panas dan dingin

Kedua :
Agar engkau saudaraku penuntut ilmu tahu bahwasanya dengan ketidaksukaan terhadap kepahitan ini dan rasa lelah ini yang mana engkau dapati ketika menuntut ilmu, melainkan Allah akan mencampurkan kepahitan ini dengan rasa manis dan kellezatan yang engkau tidak akan mendapatinya kecuali ketika berusaha menuntut ilmu, dan dengarlah apa yang dikatakan salafush shoolih -rahimahumullah- :

Berkata Ibn Abi Haatim : Aku mendengar Al Muzanniy mengatakan : dikatakan kepada Asy Syaafi'iy : bagaimana rasa keinginanmu terhadap ilmu? Maka dia menjawab : aku ingin mendengar huruf demi huruf -maksudnya : kata demi kata- yang mana aku belum mendengarnya, maka anggota badanku ingin mempunyai pendengaran yang mana dia dapat menikmati sebagaimana telinga-telinga menikmatinya.

Maka diaktakan padanya : bagaimana semangatmu atas ilmu?

Maka dia menjawab : semangat bermacam-macam yang berkumpul/banyak untuk memperoleh kelezatan sebagaimana memperoleh harta

Maka dikatakan padanya : bagaimana caramu mencarinya?

Maka dia menjawab : Sebagai mana seorang perempuan yang tersesat mencari anaknya, dan dia tidak mempunyai anak yang lain.

Berkata Az Zamakhsyariy -rahimahullah- mensifati kelezatan yang dirasakan ahli ilmu dengan bangun malam, dan begadang panjang :

سَهَرِي لِتَنْقِيحِ العُلُومِ أَلَذُّ لِي
مِنْ وَصْلِ غَانِيَةٍ وَطِيبِ عِنَاقِ

وَتَمَايُلِي طَرَبًا لِحَلِّ عَوِيصَةٍ
أَشْهَى وَأَحْلَى مِنْ مُدَامَةِ سَاقِي

وَصَرِيرُ أَقْلاَمِي عَلَى أَوْرَاقِهَا
أَحْلَى مِنْ الدُّوكَاءِ وَالعُشَّاقِ

وَأَلَذُّ مِنْ نَقْرِ الفَتَاةِ لِدُفِّهَا
نَقْرِي لِأُلْقِي الرَّمْلِ عَنْ أَوْرَاقِي

أَأَبِيتُ سَهْرَانَ الدُّجَى وَتَبِيتَهُ
نَوْمًا وَتَبْغِي بَعْدَ ذَاكَ لَحَاقِي؟!

Waktu begadangku untuk memperbaiki ilmu adalah lebih lezat bagiku...
Dari mendapatkan kekayaan dan daging kambing yang lezat...
Dan aku berjalan miring/sempoyongan gembira karena berhasil menyelesaikan masalah
Adalah lebih nikmat dan lebih manis dari minuman yang dihidangkan pelayan
Dan bunyi penaku di atas kertas-kertas
adalah lebih manis dari minuman manis dan rasa asmara
Dan adalah lebih lezat dari tabuhan duff pemuda
Yaitu tabuhanku ketika membersihkan kerikil dari kertas-kertasku
Apakah aku yang begadang dalam kegelapan malam dan engkau di malam hari
tidur kemudian setelah itu engkau menyangka akan memperoleh hasil yang sama denganku?

Dan dengan syair tadi selesailah apa yang aku inginkan untuk dijelaskan, dan hanyalah Allah tempat aku meminta untuk menjadikan perkataan-perkataan ini bermanfaat, dan agar dapat dibaca kepada saudara-saudaraku untuk meraih ilmu syar'i

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Tanbiih penerjemah :
Hendaknya perkataan berupa targhiib dan tarhiib dari para pendahulu kita ini tidak dijadikan hal untuk menghukumi keadaan seseorang. Kemudian terjadi vonis pada seseorang "Anda pemalas, anda tidak mendapat barokah hari ini" "Anda bla bla bla, fulan bla bla bla" karena bisa jadi kita tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya dari orang tersebut. Kalau anda mendapati keadaan yang demikian (baca : buruk) pada saudara anda, maka berkhusnuzhonlah dan carilah banyak banyak udzur yang yang bisa dijadikan alasan untuknya. Para salaf terhadap dirinya tidak bermanja-manja, tidak banyak beralasan, akan tetapi mereka terhadap orang lain sangat lembut dan penyayang, dan memberikan udzur. Bandingkan keadaan mereka dengan kita yang sangat jauh dari mereka. Apakah yang sudah kita korbankan untuk meraih ilmu yang mulia ini?
Wallahu a'lam

- Selesai -

Diterjemahkan oleh saudaraku alfadhil Abu Saliimah (hafidzahullah) dari kitab  
القصور في طلب العلم: أسبابه وعلاجه
dengan peringkasan dan sedikit penambahan
Link download : 
http://www.archive.org/download/zamallahn/zamallahn.pdf
Pinjam gambar dari www.forum.rjeem.com
http://www.frewaremini.com

| Mau Kembali Keberanda? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi Respon yang Baik