Senin, 12 Maret 2012

Ayo Bangunlah Penuntut Ilmu (Bagian 2)

Bangunlah Engkau Wahai Orang Yang Lemah dalam menuntut Ilmu! (Bagian 2)

KEDUA : ENGKAU HARUS MELIHAT PERJALANAN SALAFUSH SHOLIH, DAN BAGAIMANA SEMANGAT MEREKA YANG TINGGI.

Dari Abu Ubaid, bahwa dia senantiasa mengatakan :  Dahulu ketika aku sedang menulis kitab ini selama 40 tahun, seringkali aku mendapat sebuah faidah dari perkataan-perkataan para ahli ilmu. Maka aku tulis faedah tersebut dalam kitab ini, sampai aku terjaga/begadang hingga larut malam, gembira karena faedah tersebut, kemudian salah seorang dari kalian mendatangiku (untuk belajar kepadaku -pent), maka dia belajar sampai  4 bulan, 5 bulan lamanya, maka dia mengatakan : Aku telah banyak belajar. (Orang tersebut menyangka dia yang belajar 4 atau 5 bulan telah belajar banyak, padahal Abu Ubaid, syaikhnya, sudah belajar selama 40 tahun -pent)

Berkata ibnul Qoosim -rahimahullah- : Menuntut ilmu hadits menyebabkan Imam Malik harus merobohkan atap rumahnya, dijual kayunya untuk perbekalan.

Inilah Yahya ibn Ma'iin -rahimahullah- dia mempunyai warisan dari ayahnya sebesar 1 juta dirham. Maka dia infakkan semuanya untuk mendapatkan hadits. Sampai tidak tersisa yang dia miliki kecuali sandal yang dia pakai.

Berkata An Nawawiy -rahimahullah- ketika menceritakan tentang keadaan awal-awal beliau menuntut ilmu : Aku telah menetap selama dua tahun dan aku belum pernah meletakkan perutku ke tanah (maksudnya tidur berbaring -pent).

Al Badr ibn Jamaa'ah menceritakan bahwa dia bertanya pada An Nawawiy -rahimahullah- tentang tidurnya : maka dia mengatakan : Jika aku mengantuk, maka aku menyandarkan diriku pada kitab-kitab selama beberapa menit, kemudian aku terjaga setelah itu.




Berkata Al Badr : Aku jika hendak mendatanginya maka dia menumpuk sebagian kitab ke kitab yang lain, untuk memberikan ruang kepadaku agar aku dapat duduk.

Berkata Istri Al Imam Az Zuhriy -rahimahullah- : Demi Allah sesungguhnya kitab-kitab ini lebih membahayakanku dari tiga wanita cantik.

Dari Abu Ubaid Al Qoosim ibn Sallaam : Aku tidak pernah mengetuk pintu seorang muhaddits sama sekali.
Dalam riwayat yang lain : Tidaklah aku pernah mendatangi seorang Aalim kemudian aku meminta ijin untuk menemuinya, akan tetapi aku menunggu/bersabar sampai dia keluar dari rumahnya, dan aku menafsirkan firman Allah ta'ala : "Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar dan menemui mereka maka itu adalah lebih baik bagi mereka" Al Hujuraat :5

Berkata Sufyaan Ats Tsaury : Kami terus menerus mempelajari ilmu selama kami mendapatkan orang yang mengajari kami.

Berkata Tsa'labah : Aku tidak pernah kehilangan majelisnya Ibraahiim Al Harabiy baik itu majelis bahasa, ataupun majelis nahwu selama 50 tahun.

Dan dari Abu Zur'ah bahwa seringkali ketika dia makan maka dibacakan (hadits/kitab), dan ketika dia berjalan maka dibacakan juga kepadanya, dan bahkan ketika masuk kamar kecil dibacakan juga kepadanya, dan ketika dia masuk rumahnya untuk mencari sesuatu dibacakan juga kepadanya.

Berkata Ammar ibn Rajaa' : Aku mendengar Ubaid ibn Ya'iisy mengatakan : Aku telah terjaga selama 30 tahun dan selama itu aku tidak pernah makan dengan tanganku sendiri, akan tetapi ada saudariku yang senantiasa menyuapiku ketika aku dalam keadaan menulis hadits.

Dikatakan kepada Asy Sya'biy : Dari mana engkau mendapatkan ilmu ini semuanya?  Dia berkata : Dengan tidak menggantungkan diri, dan dengan berjalan ke negeri-negeri, bersabar seperti sabarnya keledai, dan berangkat pagi seperti berangkat paginya burung gagak.

Dan berkata sebagian salaf : JIKA ADA SUATU HARI YANG MANA AKU TIDAK BERTAMBAH ILMU YANG MENDEKATKANKU KEPADA ALLAH, MAKA TIDAK ADA KEBERKAHAN BAGIKU PADA TERBITNYA MATAHARI DI HARI ITU.

Dan yang semisal dari hal tersebut adalah perkataan seorang :
إِذَا مَرَّ بِي يَوْمٌ وَلَمْ أَسْتَفِدْ هُدًى
وَلَمْ أَكْتَسِبْ عِلْمًا فَمَا ذَاكَ مِنْ عُمْرِي

JIKA AKU MELEWATI SUATU HARI DAN AKU TIDAK MENDAPATKAN FAIDAH PETUNJUK
DAN AKU TIDAK PULA MENDAPATKAN ILMU, MAKA APA GUNANYA UMURKU INI?

Dan dikatakan kepada sebagian salaf : Dengan apa kalian memperoleh ilmu?
Maka dijawab : Dengan lampu-lampu dan duduk sampai pagi. (begadang, ikut di majelis sampai pagi -pent)

Dan Al Khotiib Al Baghdaadiy mengatakan : Waktu terbaik untuk mudzaakaroh adalah malam, dan dahulu sekelompok salaf senantiasa melakukan hal itu, dan mereka memulai dari mulai Isyaa' dan acapkali mereka tidak berdiri sampai mereka mendengar adzan Subuh. (Sedangkan An Nawawiy mengatakan bahwa waktu terbaik mudzaakaroh adalah pagi hari -pent) 

Berkata Ibn Abi Haatim : Dahulu kami berada di Mesir selama tujuh bulan, kami tidak mempunyai air daging/kuah untuk dimakan, pada siang hari kami menghadiri majelis para syaikh, dan ketika malam kami menyalin dan mendiktekannya kembali. Pada suatu hari aku dan temanku ingin mendatangi seorang syaikh. Ketika disana murid-muridnya mengatakan : Syaikh sedang sakit. Maka kami pulang dan ketika dalam perjalan aku melihat sebuah ikan (yang indah) yang membuat kami ingin memakannya, maka kami membelinya. Tatkala kami berjalan ke rumah, waktu untuk menghadiri syaikh yang lain telah tiba. Maka kami segera mendatanginya, sampai tiga hari kami tidak sempat memakan ikan tersebut. Dan ikan tersebut hampir membusuk, maka kami memakannya mentah tanpa di masak, kemudian ibn Abi Haatim berkata : ILMU TIDAK DAPAT DIRAIH DENGAN BADAN YANG BERSANTAI-SANTAI

Dan Ibnu Naashir mensifati Al Haafizh Abu Ath Thoohir As Salafiy : Seolah-olah dia adalah nyala api yang berkobar ketika mencari ilmu.

Kholiil ibn Ahmad Al Faraahiidiy -rahimahullah- mengatakan : Waktu paling berat bagiku adalah waktu untuk makan (karena sibuk dalam menuntut ilmu -pent).

KETIGA : ENGKAU HARUS MENGETAHUI BAHWA KEBUTUHANMU KEPADA ILMU SANGAT BESAR DAN MENDESAK, KEBUTUHAN YANG LEBIH BANYAK KETIMBANG MAKAN DAN MINUM.

Berkata Imam Ahmad -rahimahullah- : Manusia lebih membutuhkan kepada ilmu daripada makan dan minum, karena manusia membutuhkan makan dan minum dalam sehari hanya sekali atau dua kali, sedangkan kebutuhan terhadap ilmu adalah sebanyak nafas.

KEEMPAT : ENGKAU HARUS MENGETAHUI BAHWA ILMU ADALAH PENJAGA DARI KEKELIRUAN/KESALAHAN DAN AQIDAH YANG RUSAK.

Berkata Imam Maalik -rahimahullah- : Sesungguhnya sebuah kaum (maksudnya Khawarij -pen) mereka mencari ibadah, dan mereka meninggalkan ilmu, maka akhirnya mereka keluar memerangi ummat Muhammad shallallahu alaihi wasallam dengan pedang mereka, seandainya mereka mencari ilmu maka mereka akan terhalang dari hal tersebut.

KELIMA : ENGKAU HARUS MENGETAHUI BAHWA ILMU TIDAK AKAN MENUNGGUMU, DAN BAHWA ILMU YANG HILANG DARIMU PADA HARI INI MAKA ENGKAU TIDAK AKAN DAPAT MENDAPATKANNYA BESOK, LIHATLAH BERSAMAKU -SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN RAHMAT KEPADAMU- KEPADA PETUNJUK SALAFUSH SHOOLIH DALAM SEMANGAT MEREKA MENDENGAR ULAMA DI ZAMAN MEREKA.

Berkata Abdullah ibn Mas'uud -radhiyallahu anhu- : Wajib kalian atas ilmu sebelum ilmu itu diangkat, dan diangkatnya adalah dengan diwafatkannya para ulama, maka demi Dzat yang jiwaku ada di tangan Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh (syahid) di jalan Allah sangat menginginkan agar Allah membangkitkannya sebagai ulama, karena mereka melihat keutamaannya, dan sesungguhnya seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan hanyalah didapat ilmu itu dengan belajar.

Berkata Al Hasan Al Bashriy : Para sahabat sering mengatakan : Kematian seorang aalim adalah keretakkan bagi islam, yang mana tidak ada yang dapat menutupnya selama bergantinya siang dan malam.

Dan ketika Zaid ibn Tsaabit -radhiyallahu andhu- meninggal, Ibn Abbas -radhiyallahu anhuma mengatakan : Wahai mereka, siapakah yang dapat mengetahui bagaimana hilangnya ilmu, maka seperti inilah hilangnya ilmu, demi Allah, telah hilang pada hari ini ilmu yang bnayak, telah wafat seseorang yang mengetahui sesuatu yang mana selain dirinya tidak mengetahui, maka pergilah apa yang bersamanya (ilmu) - dan ibn Abbas menunjuk pada kubur Zaid- kemudian mengatakan : Telah dikuburkan pada hari ini ilmu yang banyak.

Dan Yahya ibn Ma'iin mempunyai semangat yang tinggi untuk menghadiri muhadhoroh syaikh, mendengarkan nasehat mereka, dan dia sangat takut untuk kehilangan (tidak bisa datang).

Dari Abu Umaamah -radhiyallahu anhu- dia mengatakan : Wajib kalian atas ilmu ini sebelum ini diwafatkannya para ulama, dan sebelum ilmu ini diangkat.

Dan salah seorang dari mereka bersedih dan tertimpa penyakit jika kehilangan sedikit saja dari ilmu. Di antara hal tersebut adalah Syu'bah disebutkan padanya sebuah hadits yang dia tidak pernah mendengarnya, maka hal itu membuatnya berkata : Sungguh sedih sekali...
Dan dia juga mengatakan : Sesungguhnya aku diingatkan sebuah hadits, kemudian hilang dariku (lupa), MAKA AKU MENJADI SAKIT.

Dan berkata Maalik ibn Yakhoomar : Ketika Mu'adz akan wafat maka aku menangis, maka dia mengatakan: Apa yang engkau tangisi? Maka aku mengatakan : Demi Allah aku tidak menangis karena dunia yang mana aku memperolehnya darimu, akan tetapi aku menangis karena ilmu dan iman yang keduanya aku pelajari darimu. (Sangat sedih karena kehilangan guru yang mana merupakan tempat menimba ilmu -pent)

KEENAM : ENGKAU HARUS MENGETAHUI WAHAI ORANG YANG BERPALING DARI MENUNTUT ILMU, SIAPA SEBENARNYA ORANG-ORANG YANG BODOH  DI ANTARA MANUSIA -SEMOGA ALLAH MENLINDUNGIKU DAN ENGKAU DARI HAL TERSEBUT- :

Berkata Aliy ibn Abiy Thoolib -radhiyallahu anhu- : Manusia itu ada tiga macam : Aalim rabbaaniy, penuntut ilmu di jalan keselamatan, dan orang yang lapar lagi bodoh, yang mana dia mengikuti setiap burung gagak yang berkoar, dia condong kemana angin selalu berhembus, dan cahaya ilmu tidak membuatnya bersinar, dan tiang yang kokoh tidak mampu melindunginya.

Aliy -radhiyallahu anhu- membagi mereka menjadi tiga golongan : Aalim rabbaniy, dan penuntut ilmu yang menempuh di jalan keselamatan, dan orang yang lapar lagi bodoh, dan orang yang kelaparan tersebut -Semoga Allah melindungiku dan engkau dari mereka- adalah orang-orang bodoh, yang mana mereka tidak dianggap.

Dan Aliy -radhiyallahu anhu- mensifati mereka : bahwa mereka adalah pengikut setiap koaran burung gagak; maksudnya : Setiap orang yang berteriak pada mereka dan menyeru mereka, maka mereka akan mengikuti orang tersebut, sama saja apakah dia menyeru kepada petunjuk atau kesesatan, karena mereka tidak mengetahui kemana mereka diseru : apakah kebenaran ataukah kebathilan?

Berkata Al Imaam Al Auzaa’iy rahimahullah : Manusia disisi kami adalah ahli ilmu, adapun yang selain mereka maka tidak ada apa-apanya.

Berkata Umar -radhiyallahu anhu- : Wafatnya SERIBU AABID (ahli ibadah) LEBIH RINGAN dari wafatnya seorang Aalim yang paham akan perkara halal dan haram.

Bersambung …..


Diterjemahkan oleh saudaraku alfadhil Abu Saliimah (hafidzahullah) dari kitab  
القصور في طلب العلم: أسبابه وعلاجه
dengan peringkasan dan sedikit penambahan
Link download : 
http://www.archive.org/download/zamallahn/zamallahn.pdf
pinjam gambar dari www.khirou.wordpress.com
http://www.frewaremini.com

| Mau Kembali Keberanda? |

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Memberi Respon yang Baik